oleh

Umat Islam Jangan Bersedih

Oleh: Komaruddin Rachmat
(Mantan Ketua Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan – MIIAS)

ISLAM adalah agama yang hidup karena Islam bukanlah agama ritual semata, tapi ajaran Islam mengatur segala aspek kehidupan, dari mulai cara makan, cara tidur hingga hidup bermasyarakat Islam juga mengaturnya.

Sebelum dunia memasuki zaman modern seperti sekarang ini Islam sudah lebih dulu modern. Di abad pertengahan ketika London dan belahan negara Eropa lainnya masih merupakan wilayah kecil dan kumuh, Islam di Spanyol dan sebelumnya juga Bagdad ketika itu telah menjadi negara modern dan memimpin peradaban dunia.

Tapi dalam sejarahnya, memang Islam ternyata dikerdilkan oleh umatnya sendiri. Keruntuhan Islam di Spanyol (awal abad ke 13) diawali oleh perpecahan yang bersifat khilafiah, yaitu perbedaan dan pertengkaran-pertengharan yang tidak prinsip, antara umat Islam sendiri saling membid’ahkan, saling mengkafirkan antara satu dengan yang lainnya. Ada 23 faksi khilafiah yang eksis dan saling membenci di Spanyol sebelum keruntuhannya.

Di sini kelihatannya umat Islam tidak mampu belajar dari sejarah, badannya terlalu berat untuk bisa memisahkan dirinya dari perpecahan dan mudah dipecah untuk kepentingan politik baik lokal maupun global.

Sekarang umat Islam tidak lagi memiliki negara yang bisa dijadikan rujukan. Mungkin Turki yang baru saja keluar dari sekulerisme bisa memimpin, tapi paska sekulerisme itu umurnya baru seumur jagung dan belum tentu Turki mampu menghadapi predator-predator anti Islam dan Islam phobia.

Sebetulnya umat Islam dalam perjalanannya punya titik-titik penting kejayaan yang bisa dijadikan rujukan dan dipedomani. Di zaman Khalifah Arrasyidin misalnya, khalifah Abubakar Sididq hanya dalam satu periode kepemimpinannya seluruh Afrika utara diIslamkannya. Umar bin Khotob penggantinya kemudian menaklukkan Yerusalam dari tangan Romawi tanpa perang (635).

Muhamad Al Fatih merebut Byzantium ibu kota imperium Romawi yang kini menjadi negara Turki ( 1457) bahkan merangsek kedalam Eropa Barat sampai Bosnia, Albania..dst.

Tapi peradaban umat Islam kemudian sama sekali runtuh di era kolonial. Dimulai pada awal abad ke 15 yaitu ketika Portugis yang membawa bendera agama mulai merambah ke wilayah-wilayah Islam, yang kemudian diikuti oleh negara Eropa lainnya. Maka masuklah era kolonial atau era penjajajahan.

Era Kolonialisasi (penjajahan) sebetulnya tidak lama hanya sekitar 300 – 400 tahun, bandingkanlah dengan umat Islam yang pernah menguasai dunia (di Spanyol 700 tahun, di Yerusalam, lebih dari 1300 tahun dikuasai muslim) Turki bahkan sampai hari ini setelah lebih dari 500 tahun menjadi negara Islam setelah sebelumnya negara Nasrani.

Tanah-tanah Romawi yang direbut Umat Islam sampai sekarang masih menjadi negara Islam antara lain Mesir, Maroko, Babilonia (Iraq) dan banyak lagi.

Kini, hampir seluruh negara-negara dunia dibayang-bayangi oleh negara-negara Muslim. Di Eropa Barat ada Bosnia, Albania. Di India ada Kasmir, Gujarat. Di China ada lebih dari 300 juta penduduk muslim, di situ ada bangsa Uighur, Hui dll. Di Rusia ada Chechen dan enam negara pecahan Uni Sovyet lainnya. Di Burma ada suku Rohingya. Di Philipina ada bangsa Moro. Di Thailand ada Phatani. Di Australia ada Indonesia yang penduduk Islamnya terbesar di dunia.

Negara-negara itu sesuai kebutuhan zamannya pada suatu saat kemungkinan akan merdeka, terutama bila melihat adanya pergolakan di wilayah masing-masing itu.

Dan berita-berita tentang derasnya mualaf di negara-negara Eropa juga mencirikan akan terjadinya pergeseran komposisi penduduk berdasarkan agama dalam waktu cepat atau lambat di negara-negara Eropa dan negara berpenduduk kulit putih lainnya.

Bilapun saat ini dunia Islam dipenuhi fitnah insya Allah akan berlalu seiring jalanya waktu. Semakin umat berkualitas semakin cepat pula hilang masa itu.

Jadi berdasar pikiran di atas untuk apa umat Islam galau akan masa depannya.. “Nikmati saja hidup, didik anak-anak dengan baik, bina kader-kader umat dengan baik, perbanyak sedekah untuk kebaikan, para tokohnya/ulama memperbaiki management komunikasi umat”.

Imbangi dakwah lisan dengan dakwah perilaku.

“Jadikanlah tetangga kita sebagai keluarga besar kita sendiri dan cintailah anak tetangga sebagaimana kita mencintai anak kita sendiri, karena mereka adalah generasi penerus umat dan bangsa jua adanya”.

Saudara-saudara kita dari etnik Tionghoa janganlah dimusuhi, rangkullah mereka dengan hikmah.. berdakwalah kepadanya dengan bijak. Putuskan lingkaran mata rantai apriori antara satu dengan lainnya. Dengan begitu Insya Allah Indonesia akan menjadi Bangsa besar.

Waolohub a’lam bissawab

Komentar