oleh

Bangkit dan Mengerek Bendera Harapan….

Oleh: Moh. Bahri, S.Pdi., SH
(Anggota DPRD Banten, Fraksi Gerindra)

KITA mungkin berada di perahu yang berbeda, namun menghadapi badai yang sama. Siapapun kita, apapun profesinya, tak lepas dari rundungan aneka problem dan tantangan berat, di tahun ini.

Tidak ulama, tidak pemimpin, tidak pedagang, tidak buruh, tidak petani, semua kena.

Ancaman penularan Covid-19 tak kenal ampun, siapapun bisa terinfeksi. Hempasan kesulitan hidup, keterbatasan mobilitas, potensi keresahan, gangguan keamanan, dan harmoni sosial yang retak, adalah beban kita bersama.

Maka satu hal yang harus tetap kita kencangkan: daya juang dan kebersamaan!

Bangsa ini bukan baru pertama menghadapi gejolak dan musibah. Bahkan sejak kemerdekaan sekalipun, berkali-kali ujian datang.

Di medio tahun 60-an, Bung Karno bahkan menyebut sebuah istilah: vivere pericoloso, yang artinya: tahun-tahun penuh guncangan! Prahara sebagai sebuah bangsa, tak membuat negeri ini binasa.

Pun di ujung tahun 90an, yakni krisis multi dimensi, saat reformasi 1998, nyaris semua tiang penopang kebangsaan ambruk. Tetapi kita lolos.

Insya Allah, dengan pertolongan Tuhan, dan ikhtiar bersama, seberat apapun hempasan, tak bisa membinasakan.

Sebagai sebuah bangsa, topangan untuk lolos ujian, atau exit strategy, tak lain adalah solidaritas dan menularkan semangat kebangkitan. Dan semua itu, tak melulu bergantung pada desain atau kebijakan elit politik, melainkan juga bisa lahir dari prakarsa rakyat banyak. Dengan kata lain, rakyat adalah pemegang saham keselamatan NKRI hari ini.

Sejumlah riset membuktikan, faktor penyelamat NKRI dari badai ekonomi 1998 adalah: sektor informal, alias pelaku ekonomi kerakyatan, yang tak tergantung pada utang luar negeri, pada permainan saham, atau pada kapitalis raksasa.

Saat ini, dengan demikian, lagi-lagi kekuatan konkret rakyat jelata yang menjadi penentu.

Setidaknya beberapa skenario yang bisa diperankan kita sebagai anak bangsa.

Pertama, menumbuhkan empati, saling peduli, saling dukung, dan saling bantu. Di sekeliling kita kini banyak yang menderita, maka uluran tangan kita bisa meringankan beban bersama.

Kedua, mengesampingkan sebaran konflik dan provokasi yang memancing gejolak sosial. Betapa banyak tangan-tangan jahat yang memainkan opini sesat, di kala suasana penuh derita saat ini. Mereka beroperasi via Medsos. Kalaupun kita tak bisa menghentikan semua itu, paling tidak, kita tak ikut meramaikan dan tak terpengaruh.

Ketiga, memberi dukungan atas prakarsa sosial, atau gerakan komunitas, yang bekerja tulus dalam mengatasi aneka problem kemasyarakatan hari ini. Kita jangan menjadi individu apatis. Justru saatnya kita mendukung aksi-aksi kemanusiaan yang berfaedah.

Keempat, mengoptimalkan sumber daya yang kita miliki, guna membantu gelora semangat bersama. Jika kita bisa berkontribusi dalam opini publik, maka gunakan medsos untuk mengabarkan kebaikan, dan mengubur dusta serta fitnah. Jika kita punya pengaruh di lingkungan sekitar, maka tampilkan sikap yang menyemangati sesama.

Kelima, setiap kita bisa menjadi pengibar bendera harapan, yang menumbuhkan optimisme, memacu semangat juang, menimbulkan aksi bersama, atapun menggalang solidaritas sosial.

Pengerek bendera harapan adalah orang-orang yang berani bangkit. Sanggup menadah resiko beratnya perjuangan. Tekun dan sabar dalam mengatasi masalah. Lebih banyak bekerja daripada berwacana. Memulai aksi dari keluarga, ke tetangga, dan diikuti secara bersama.

Pengerek bendera harapan bisa berasal dari mana saja. Bisa dari seorang ulama yang mencerahkan jamaah atau pengikutnya. Bisa seorang warga desa yang tulus membantu sesama warga. Bisa mahasiswa, buruh, petani, atau bahkan pedagang.

Semoga di Tahun 2021 ini, semakin banyak orang Indonesia yang menjadi teladan kebangkitan. Insya Allah….

Komentar