oleh

SIASAT, SIASAT, SIASAT!

by: Ludiro Prajoko
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

PEMBUNUHAN 6 anggota Laskar FPI oleh Polisi dan penahanan HRS mencuat sebagai permasalahan hukum yang sangat pekat bernuansa politik. Bahkan meyakinkan dipandang sebagai masalah politik. Wajar bila menstimulasi reaksi-tindakan politik massa yang meluas.

Setiap tindakan politik mesti menghitung siasat secara cermat. Massa rakyat yang menuntut keadilan-kebenaran ditegakkan, melawan kesewenang-wenangan, telah menunjukkan upaya itu melalui rangkaian aksi protes, di berbagai daerah beberapa hari terakhir. Memuncak pada aksi 1812 di Jakarta. Manusia tumpah ruah, walaupun tak sedahsyat 212.

Aksi protes massa, beberapa tahun terakhir, terjadi berulang kali. Apakah hasil politik yang dicapai? Tentu, semua peristiwa itu penting. Sebagai input dalam proses politik tentu memiliki arti tersendiri. Namun, sejauh ini, tampaknya belum efektif mencapai hasil politik sesuai tuntutan. Dengan pengrcualian, 212 yang berfokus isu penodaan agama oleh Gubernur DKI waktu itu.

Aksi-aksi selanjutnya, menyangkut isu: kecurangan pemilu, Omnibus Law, dll, sekalipun tak sedikit menelan korban jiwa, tidak membuahkan hasil memadai. Termasuk aksi 1812 (?).

Cukup meyakinkan untuk disimpulkan bahwa pola aksi seperti itu, kurang efektif. Tampaknya, ada persoalan siasat yang perlu dikaji ulang. Dan, dalam setiap gerakan, memang ada kebutuhan mengevaluasi siasat: aspek strategis yang menjadi fokus bidikan, isu sentral, pola gerakan: mobilisasi sesaat, tekanan langsung ke pusat kekuasaan, tak menghasilkan dampak politik sesuai tuntutan.

Maka, perlu dikaji sasaran antara yang potensial memunculkan political stricking force (daya tonjok politis) kuat terhadap pusat kekuasaan, dampak non politik yang potensial memberikan pengaruh kuat terhadap dinamika politik di tingkat elite.

Siasat aksi reformasi 98 yang sukses merobohkan rejim, patut dicermati ulang. Aksi dikonsentrasikan di Senayan. Jalur utama menuju Bandara. Kemungkinan dampak politik tentu lebih beragam di DPR dari pada di Istana.

DPR yang dipimpin Harmoko, menarik mandat P. Harto dengan menghimbau agar mundur.

Tembak menembak di halaman Gedung Rakyat memiliki dimensi yang berbeda. Semua anggota DPR tentu berasal dari parpol, sehingga Parpol perlu dilibatkan dalam persoalan ini. Parpol tentu berkepentingan terhadap citra diri dan suara pada pemilu nanti.

Memang, aksi reformasi didukung eksponen militan: anak-anak kiri yang efektif mengonsolidasikan diri melalui gerakan: mahasiswa, buruh, LSM, dll. Faktor krusial waktu itu: krisis moneter-ekonomi. Juga ada faktor yang sensitif bagi P. Harto: penjarahan. Aksi reformasi memang dilengkapi dengan brigade penjarah.

Tapi, yang mengesankan dan menjadi kunci: aksi reformasi dilakukan secara intensif-menerus, khususnya, pada 10 hari terakhir.

Tentu kondisi, konteks, pelaku, aksi reformasi tak dapat diterap ulang pada aksi dewasa ini. Dalam massa aksi 212, 1812, pasti tak ada anak-anak kiri yang radikal. Tak ada regu penjarah. Juga tak ada George Soros.

Mengacu pengalaman reformasi, nampaknya aksi perlu kembali digelar di Senayan, dengan memerhitungkan opini publik terhadap Parpol. Diharapkan thema aksi sebagai paket all in one: “Melawan Ketidak adilan dan Kesewenang-wenangan”, agar mencakup semua isu krusial: omnibus, pembunuhan, penahahan aktivis, …

Dilakukan secara intensif: aksi dewasa ini tidak berada dalam lintasan sprint,  tapi marathon. Daya tahan (massa aksi dan penguasa) menjadi faktor kunci. Daya tahan penguasa dipengaruhi daya tahan: bandara, institusi keuangan, organisasi bisnis, ….. Daya tahan massa rakyat telah terbukti. Nyaris setahun ini rakyat terbiasa menderita.

Tentu tidak mudah mencontoh aksi reformasi. Namun, setidaknya, massa aksi dewasa ini dapat dihimbau untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Berdo’a bersama, memohon pertolonganNya, melalui shalat wajib-berjamaah di masjid-masjid di seantero Jakarta, khususnya yang terjangkau dengan jalan kaki menuju Senayan.

Lebih tepatnya, perlu dipikirkan para ahli siasat. Tulisan ini sekedar melihat, tampaknya, aksi-aksi paska 212, menyisakan persoalan: siasat.

Komentar