oleh

Sejarah Wisma HMI Makassar

TILIK.id — Para alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HM) Cabang Makassar segera menerbitkan buku sejarah atau memoar tentang perjalanan HMI di Makassar. Buku tersebut tengah dalam penyuntingan. HM Jusuf Kalla menyumbang satu tulisan yang boleh disebut keynote weriter. Seperti apa tulisannnya? Berikut lengkapnya: 

SEJARAH WISMA HMI MAKASSAR

Oleh M. Jusuf Kalla
(Ketua Cabang HMI Makassar, 1965-66 )

BUKU ini termasuk tebal. Saya sarankan gambar sampulnya diubah, hindari yang bergambar demo, nanti terkesan HMI dari dulu hingga hari ini suka dan kerjanya demo saja padahal tujuan dibentuknya, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi dan… seterusnya. Judul buku juga sebaiknya jangan terkesan kisah atau sejarah, kurang menarik. Pilihlah judul yang menarik, “eye catching”, mudah ditangkap dan disenangi oleh pembaca. Terakhir, jangan lupa, usahakan buku ini memuat “Sejarah Wisma Botolempangan”.

Saya kira, gambar sampul dan judul utama itu adalah tugas tim buku. Saya ingin bercerita tentang sejarah Wisma HMI Makassar Jalan Botolempangan.

Kisah itu bermula ketika saya dkk, sebagai aktivis HMI memilih berkantor di rumah saya, Jalan Andalas Makassar. Di rumah saya ada empat nama dan pengurus organisasi yang aktif siang-malam: HMI; KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia); Pengurus Nahdhalatul Ulama (NU); dan Aisyiyah Muhammadiyah. Bapak saya, H. Kalla adalah Pengurus NU Sulawesi Selatan dan Ibu saya, Hj. Athirah, Pengurus Aisyiyah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Setelah Kemerdekaan, beberapa rumah dan kantor milik pemerintah Belanda dan orang Cina di Makassar diambil alih oleh Pemerintah Kota Makassar, Daeng Patompo, Walikota ketika itu tahun 60-an. Saya dkk dijanji akan dikasih gedung oleh Walikota. Saya tagih terus Patompo. Suatu malam, saya bonceng pakai Skuter, belum ada mobil saya, menuju Jl. Botolempangan 39-41. Di sana, ada dua penghuninya, orang Cina dan Veteran. Orang Cina menyerahkan kepada kami, lalu dia pergi. Ada makanan yang ditnggalkan dimakan oleh Alm. Halim Mubin. Rumah satunay, susah diambil malam itu juga, miliki Veteran, orang Pinrang, tapi pada akhirnya dia serahkan juga ke saya karena tiap malam teman-teman saya main drum band (gendang). Dia sekeluarga merasa terganggu, akhirnya pindah, dan pernah saya bantu biaya ganti ruginya.

Beberapa saat setelah kami tempati, datang rombongan Pengurus Ansor Sulawesi Selatan, mereka mau mengambil Wisma dan mengaku dijanji juga oleh Walikota. Kami bertahan dan segera urus Surat Kepemilikannya. Akhirnya, teman-teman Ansor mendapat bekas gedung sekolah di Jalan Irian, ditempati hingga hari ini.

Beberapa hari kemudian, kami sudah mendapat Surat Kepemilikan yang ditanda-tangani oleh Walikota Daeng Patompo. Setelah saya baca di hadapan teman-teman, saya langsung robek. Kenapa? Saya ingin Wisma itu milik Pengurus dan Aktivis HMI selamanya, bukan milik saya dan Pak Rapiuddin Hamarung. Saya tidak ingin ada masalah di hari esok. Walaupun nama yang disebut di Surat itu adalah nama kami berdua.

Wisma HMI Botolempangan sudah pernah direnovasi beberapa kali, saya ikut membantu biaya renovasinya. Tapi saya dapat informasi, Wisma Botolempangan hingga sekarang belum memiliki Sertifikat. Saya berharap Alumni dan Pengurusnya dapat segera mengurusnya.

Saya aktif di HMI Makassar sejak Kepengurusan Pertama, tahun 1962, Syarif Saleh, kemudian Dokter Ridwan asal Jeneponto, dilanjutkan oleh Rapiuddin Hamarung, kemudian saya. Saya Sekretaris Umum di era Rapiuddin.

Beberapa nama mantan Ketua HMI Botolempangang yang masih saya ingat, selain Syarif Saleh dkk hingga saya seperti: Mustamin Daeng Matutu; Arifin Sahid; Kholil Rahman Saad; Anwar Arifin; Abdullah Hemahua; Noer Namry Noer; dll.

Saya berharap buku ini memuat juga sejarah Kepengurusan HMI Makassar sejak pertama hingga lahirnya Cabang Gowa Raya. Saya dengar sekarang ada tiga Cabang HMI Makassar. Lebih bagus lagi jika buku ini dilengkapi foto-foto tempo dulu, saya kira M. Alwi Hamu yang memiliki banyak koleksi foto-foto jaman saya dkk.

HMI Makassar itu dirintis dan dibentuk sejak tahun 1962-63. Dimulai dari Fakultas Hukum, kelas jauh dari Yayasan Pendidikan Universitas Indonesia di Makassar. Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar belum terbentuk.

Setelah Unhas terbentuk, mahasiswa Fakultas Ekonomi yang paling banyak aktif di HMI, teman-teman saya. Saya dkk dulu aktif memasang plang/nama Sekretariat Korkom HMI se-kota Makassar di puluhan alamat. Tapi Sekretariat Cabang justru tidak memiliki plang karena berkantor di rumah saya. Di rumah saya tidak boleh pasang “papan nama” dilarang oleh Bapak saya, H. Kalla karena jika HMI Cabang pasang, pasti Pengurus NU dan Aisyiyah Muhammadiyah juga minta dipasang, alasan Bapak saya.

Saya juga masih ingat, di era awal Kepengurusan HMI Makassar, hampir semua Ketua Cabang terpilih secara aklamasi. Termasuk Rapiuddin Hamarung dan saya.

Demikianlah kisah saya tentang HMI Makassar. Kami sudah tua dan berharap HMI Makassar tetap eksis; pengurus dan aktivisnya terus berkarya, menjadi insan cendekia, dan mengabdi untuk bangsa, negara, dan umat. Dan jangan lupa, Sertifikat Wisma Botolempangan harus segera diurus supaya tidak ada masalah di hari esok. Yakin usaha sampai dan jayalah selalu HMI-ku. Terima kasih.

Padang Golf Senayang Jakarta, Desember 2020

Komentar