oleh

MASYARAKAT SIPIL

by: Ludiro Prajoko
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

BAGAIMANA demokrasi menemui ajal? Menjadi perbincangan hangat setelah Anies berfoto membaca buku How Democracies Die, karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, ilmuwan politik Harvard. Salah satu isu penting dalam perbincangan itu: keberadaan Masyarakat Sipil (MS).

Azyumardi Azra menulis: Masyarakat Sipil dan Demokrasi (Republika 26 Nov 2020). Memaklumkan keberadaan MS dalam dua dasawarsa terakhir mengalami kemunduran pada semua tingkatan (global, regional, nasional). Dampaknya terlihat dalam berbagai aspek, khususnya demokrasi. Kemunduran MS berkelindan dengan kemerosotan demokrasi.

Penyebab kemerosotan bahkan kematian demokrasi, dipaparkan dengan mengutip Levitsky dan Ziblatt: Toleransi politik memudar … Legitimasi politik oposisi diabaikan. Persekongkolan eksekutif, legislatif, dan yudikatif …. Agenda politik menumpuk kekuasaan di tangan eksekutif melalui permainan konstitusional tertentu. Kepincangan ekonomi terus berlanjut, bahkan memburuk karena kebijakan pemerintah yang tidak adil. Segregasi politik berdasarkan agama, ras, daerah, meluas.

Dalam semua gejala itu, MS cenderung diabaikan dan semakin terpinggirkan. Padahal MS bagian sangat penting dalam adopsi, pengembangan, dan konsolidasi demokrasi secara berkelanjutan. MS pilar utama tegaknya demokrasi.

Prof. Azra membuat penasaran. Tampaknya, sengaja menyembunyikan hal ihwal MS. Sedikit saja yang diungkap, intinya: masyarakat kewargaan, kumpulan warga (bukan elite atau penguasa) yang berkeadaban. Penasaran memang rasa ingin tahu:

Bagaimana memahami MS dalam konteks Indonesia: apakah MS hanya dipersiapkan untuk keperluan menyingkirkan rejim otoriter Orba? Katakanlah sampai fase transisi yang ditandai dengan liberalisasi politik. Tetapi tidak cukup memiliki kapasitas dan daya tahan mengawal konsolidasi-memantapkan demokrasi?

Apakah kemerosotan MS yang menyebabkan kemerosotan demokrasi. Atau sebaliknya? Lazimnya, memang perlu ditetapkan faktor determinannya. Sehingga proses kemerosotan dapat dikarakterisasikan secara jelas dan ilmiah.

Bila kemerosotan MS menjadi biang kemerosotan demokrasi, penting dijelaskan, mengapa dan bagaimana kemerosotan itu terjadi? Perlu dibedah anatomi MS, katakanlah sejak masa-fase pengondisian reformasi.

Apakah MS yang lebih menentukan proses (agenda dan skenario) reformasi, atau MS hanya sebagai ikutan? Bagaimana MS dalam fase transisi berlangsung?

Benarkah euphoria politik: musim semi Parpol melemahkan MS, karena warga berkeadaban terserap dalam politik praktis dan, dengan demikian menanggalkan keadabannya?

Secara umum, terdapat paling tidak empat aktor utama dalam pemicuan reformasi: elite militer, dunia internasional, korporasi, dan MS. Apakah MS Indonesia kala itu otentik?

Bila kesuksesan reformasi sebagai pembuka jalan redemokratisasi, karena MS yang kuat terlembaga, mengapa tak bertahan lama dan segera merosot?

Belum lagi bila MS itu dikerangkakan dalam ‘Indonesia sebagai negara mayoritas muslim’.

Tentu saja, menjadi otoritas dan kompetensi para pakar terkait untuk menjelaskan semua itu.

Jangan-jangan, MS yang sesungguhnya: FPI, 212. Selebihnya, hanya warga sipil yang mencari nafkah dengan caranya masing-masing, tanpa memedulikan demokrasi – otoritarianisme.

Komentar