oleh

PULANG

by: Ludiro Prajoko

IMAM Besar HRS diberitakan sudah tiba di Jakarta hari ini, 10 Nopember 2020, bertepatan dengan Hari Pahlawan. _Timing_ sering kali sebuah isyarat.

Sejak mengumumkan rencana kepulangannya, beberapa waktu lalu, ramai komentar para tokoh, masyarakat umum, dan pejabat Pemerintah. Tentu saja Menko Polhukam perlu berkomentar, menyampaikan pernyataan. Dan, seperti biasanya, menuai kecaman.

Tapi, belakangan melunak: silakan masyarakat menyambut di bandara. MMD: teks yang menyerupai naskah _Omibus Law_ , gampang berubah-ubah. Membacanya perlu kecermatan.

Umar Kayam benar: pulang, sebuah kata yang mengandung daya magis, katanya. Memang, selalu saja ada sensasi unik dalam setiap peristiwa pulang. Terbayang rumah, keluarga, kampung halaman, orangtua, sanak kerabat, kekasih: pengalaman batin yang panoramik, menimbulkan efek meremat-remat hati.

Pulang mengilhami penciptaan syair lagu, yang membuat kita serasa melambung kala mendengarnya: Aku pulang…. (Bimbo), juga _Let me go home_ (Michael Buble). Kita menyebutnya pulang kampung. Khusus pada hari raya ‘Idul Fitri atau sejenisnya: mudik.

Kematian sebagai pengalaman absolut sering dinyatakan dengan ungkapan _pulang ke rahmatullah, pulang kerumah Bapa_ dengan iringan do’a: _requiescat in pace_ .

Kepulangan HRS dikabarkan untuk menggerakkan revolusi akhlak. Belum jelas benar, bagaimana revolusi jenis itu akan diselenggarakan. Pulang dan revolusi ada kalanya berhubungan erat. Paling tidak, dulu, dialami Imam Khomaini, yang pulang dari pengasingannya di Perancis. Revolusi Iran tentu revolusi sebagaimana lazimnya, untuk menumbangkan rejim Reza Pahlevi.

Ratusan ribu, dan ditaksir tembus sejuta massa dari berbagai daerah bakal menyambut kepulangan Sang Imam Besar. Belum ada kabar, perjalanan rombongan daerah terhambat. Bila terbukti massa penjemput membludak, tentu bakal menjadi peristiwa fenomenal.

Hanya seorang yang benar-benar tokoh yang memiliki daya magnetis sedahsyat itu. Mengingatkan pada hari pemakaman Sutan Syahrir, yang digambarkan: jenazah telah sampai di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sementara ribuan pelayat belum dapat beranjak dari rumah duka di Menteng, karena padatnya iring-iringan massa yang berduka, memberikan penghormatan terkahir.

Dapat dimengerti bila kepulangan HRS bukan peristiwa _sambil lalu_ dalam landscape dan dinamika politik Indonesia kontemporer. Walaupun Pemerintah rajin menunjukkan taring kedigdayaannya, terbaru dengan meneken _Omnibus Law_ . Blok penguasa tidak berarti balok beton yang teramat solid. Banyak kasus menunjukkan betapa blok penguasa itu _fragile_ , lebih-lebih ketika situasi diambang tak terkendali yang dipicu: ketidakpuasan publik yang meluas, kinerja ekonomi yang merosot, ……

Elite memang tak pernah utuh selamanya. Karena, mereka ditakdirkan untuk menghitung ulang setiap kali bangun tidur, sesuai mimpi-mimpi, gelagat, dan peristiwa penting yang memberikan sinyal pada mesin hitungnya. Dahl dalam uraiannya tentang demokrasi, menyajikan rumus perbandingan biaya represi dan toleransi.

Satu hal yang tampaknya _pasti_ , kepulangan HRS mengalirkan energi baru bagi gerakan koalisi kritis, mahasiswa, buruh, ……… yang memang perlu dikuatkan.

Sejarah mencatat, peristiwa pulang yang fenomenal. Terjadi di Piliphina, dulu: Benigno Aquino pulang dari pengasingannya di Amerika. Setiba di bandara Manila, seorang kawannya bertanya: hendak kemana kita? Aquino menjawab singkat: turun. Lalu, dor…. peluru bersarang di tubuhnya. Aquino tewas, tepat di mulut pintu pesawat, ditembak serdadu Marcos. Segera setelah itu, dunia menyaksikan pemandangan yang mengesankan: _people power,_ dan Marcos tumbang.

Indonesia 2020, bukan sebuah tempat yang sunyi. Hubungan Islam dan Negara, layaknya panco. Pemerintah gemar menggerak-gerakkan ujung telunjuk: radikal, intoleran, kearah seberang, dimana berdiri sebuah rumah bernomor 212. Penghuninya, memang tak pernah diam, terus bergerak sesuai keyakinannya: menegakkan kebenaran, merubuhkan kemunkaran, seraya mencium aroma komunisme yang kembali merebak di halaman. Titik apinya: melindungi ummat, juga bangsa, dari mara bahaya.

Pembelahan masyarakat tak terelakkan. Dipicu aneka sebab. Menguat melalui grup-grup WA dan perbincangan publik, khususnya ummat Islam. Pimicunya aneka kasus: orang gila yang menyerang ustadz – imam masjid, film pendek yang aneh dari genre _Si Buta dari Gua Hantu_ : _My Flag,_ _buzzeRp_ , para penista agama dan ummat Islam yang bergentayangan di medsos, sampai munculnya ulama aneh yang menyebut dirinya _Bapak para janda_ , untuk mencemari ruang dan diskursus publik dengan hal-hal yang tak berguna.

Juga sebagai tanggapan logis terhadap eksistensi (yang dianggap setengah najis) dan kinerja Pemerintah dalam mengelola Negara, yang dari hari ke hari menambah- mengristalkan ketidak puasan masyarakat luas. Layaknya dapur magma sebuah gunung berapi, bergejolak dibawah permukaan, menunggu sampai tekanan dan volume mencapai titik tertentu, lalu mencari jalan keluar alamiah: meletus.

Dalam situasi seperti itu, dan menjelang akhir tahun, Sang Imam Besar pulang. _Ahlan wasahlan ya habib_ . Perayaan macam apa yang bakal terjadi selanjutnya? Terdengar selentingan, Sang Imam Besar akan ditangkap, segera setelah tiba di tanah air. Entahlah, kita, umumnya, tak dibekali kemampuan melihat apa yang akan terjadi besok.

Kita hanya tahu, sudah menjadi kelaziman masyarakat Indonesia, akhir tahun ditandai dengan perayaan kembang api, juga letusan-letusan: mercon. Dan, sejenisnya!

Komentar