oleh

Kisah Nur Alam dari Lapas Sukamiskin

By Yusran Darmawan

MATANYA berkaca-kaca saat melihat saya datang menjenguknya. Di Lapas Sukamiskin, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang warga binaan di Lapas itu. Dia bukan lagi Gubernur Sultra yang memimpin selama dua periode.

Ketika mondar-mandir Bandung untuk satu pekerjaan bersama Balitbang Kementerian PUPR, saya tiba-tiba terpikir untuk menemuinya. Sebab kantor Kementerian PUPR di Bandung tak jauh dari Lapas Sukamiskin. Saya singgah sejenak untuk bertemu.

Nur Alam yang saya saksikan ini tidak segemerlap dahulu. Dia datang dengan sandal jepit. Dia terlihat kurus. Kumisnya sudah dicukur. Dulu, hari-harinya adalah mendapat penghormatan. Kini, dia sendirian di situ. Dia hanya ditemani sesama warga binaan.

“Saya nda sangka kalau kamu masih ingat saya. Jarangmi orang yang datang lihat saya di sini,” katanya tersenyum. Saya mendengarkan kisahnya. Sejak dia ditahan, banyak orang yang menghindarinya. Dia bukan lagi pusat gravitasi untuk ditemui dan dilobi. Dia kembali menjadi dirinya sendiri, yang sesekali dijenguk oleh keluarganya.

Namun saya datang sebagai orang yang mengenalnya di akhir periodenya sebagai gubernur. Ketika dia dihindari, saya tetap akan mendatanginya. Saya melihatnya sebagai tokoh masyarakat yang perlu ditemui. Saya menjaga silaturahmi dengannya.

Saya membayangkan betapa kontrasnya dia hari ini dengan sosok yang saya temui tahun 2017 silam. Saat itu, saya datang ke Kendari atas undangan Balitbang Sultra demi menyusun publikasi mengenai perjalanan Sultra di bawah kepemimpinan Nur Alam selama dua periode.

Setiap bertemu dengannya, dia selalu dikelilingi staf dan ajudan. Kalimatnya akan ditafsir menjadi kebijakan. Birokrasi bekerja sesuai arahannya. Di mata saya, dia tak pernah meninggikan diri.

Pernah, saya datang ke rumahnya bersama kawan-kawan Balitbang. Dia menanyakan apakah kami sudah makan siang. Semua diam. Saya seorang diri yang menjawab belum. Dia lalu meminta sopirnya siapkan mobil. Dia meminta saya menemaninya di mobil. Sepanjang jalan dia cerita mengenai Kendari dan mimpi-mimpinya. Kami menuju restoran paling mewah di kota itu.

Kini, di tahun 2020, dia hanya seorang Nur Alam, tanpa embel-embel jabatan. Dia tetap seperti dahulu. Dia tetap tenang dan tidak meledak-ledak. Malah, dia bisa diskusi dengan santai dan membahas berbagai hal. Dia tetap menjadi figur yang hangat dan menyenangkan.

Pertemuan itu menjadi awal dari rangkaian pertemuan selanjutnya. Entah bagaimana caranya, dia beberapa kali menelepon saya malam-malam. Dua pekan sesudah pertemuan di Sukamiskin, dia mengirim pesan agar kami bertemu di Rumah Sakit Bunda, Cikini, Jakarta. Saat itu, putrinya yang tertua yakni Giona melahirkan. Dia diizinkan pihak Lapas untuk menjenguk anaknya di rumah sakit. Di situlah kami kembali berbincang banyak.

Suatu hari, dia cerita kalau akan ada pertadingan domino di Lapas. Dia berencana akan menghadiahkan buku mengenai perjalanan kariernya selama menjadi gubernur ke beberapa orang. Dia meminta bantuan agar saya mempersiapkannya.

Dia mengirimkan gambar-gambar infrastruktur yang dibangunnya. Di antaranya adalah Rumah Sakit Bahteramas, Masjid Al Alam, Kendari New Port, gedung Bank Sultra, Jembatan Uluiwoi, juga jembatan Lowu-lowu ke Pulau Makassar. Terakhir, dia juga mengirimkan Jembatan Bahteramas, yang kini disebut Jembatan Teluk Kendari.

Saya meneruskan semua kiriman gambar itu ke seorang graphic designer di Bandung untuk merekam jejaknya.

Kisah Jembatan

Saya tertarik dengan kisah Jembatan Teluk Kendari. Nur Alam pun bercerita banyak tentang jembatan itu, termasuk hal-hal yang tidak pernah diangkat media. Kisahnya panjang. Kisahnya bermula dari obsesi Gubernur Sultra Edy Sabara yang berkunjung ke San Francisco dan melihat jembatan Golden Gate di tahun 1980.

Nur Alam membayangkan jembatan yang akan dibangun nanti menghubungkan dua kawasan yang dipisahkan oleh Teluk Kendari, yakni sisi utara Kota Kendari (Kota Lama) dengan sisi selatan (Kelurahan Lapulu, Kecamatan Abeli). Kawasan Kota Lama, sebagai wilayah pelabuhan, berkembang menjadi kawasan yang kumuh.

Dulunya, ini merupakan kawasan pecinan dengan ciri khas toko emas yang berjajar di sepanjang wilayah pelabuhan. Namun, seiring kian berkembangnya pelabuhan, kawasan ini berangsur kumuh dengan tumbuhnya lahan-lahan peti kemas. Sempit, padat, dan tidak tertata baik.

Jembatan penyeberangan ini dianggap menjadi salah satu solusi. Adanya jembatan akan mempersingkat waktu tempuh di antara kawasan Kota Lama dengan Kecamatan Abeli dan Poasia, serta menciptakan pertumbuhan dan perkembangan kota secara seimbang. Selain itu, akan mendorong tumbuhnya wisata perairan.

Total anggaran yang disiapkan pemerintah untuk membangun jembatan sepanjang 1.346,37 meter ini sebesar Rp 750 miliar, meskipun secara kontraktual anggaran yang digunakan hanya Rp 729,19 miliar.

Jembatan dengan lebar 24 meter dan ketinggian 25 meter dari permukaan laut ini akan dikerjakan selama empat tahun, yaitu sejak tahun 2015-2018. Sesuai kontrak, jembatan itu akan rampung pada 8 Desember 2018. Rupanya bergeser hingga tahun 2020.

Tadinya, pemerintah pusat tak punya rencana bangun jembatan di Kendari. Penduduk Sultra tidak banyak. Ekonominya tidak semeriah daerah lain. Di lokasi jembatan, LHR-nya dianggap rendah. LHR adalah singkatan dari Lalu Lintas Harian, istilah yang digunakan dalam menghitung beban lalu lintas pada suatu ruas jalan dan merupakan dasar dalam proses perencanaan transportasi.

Di Sultra, banyak politisi dan ekonom yang menolak rencana jembatan itu. Banyak pula yang menudingnya telah menghancurkan situs sejarah. Dia menerima tuduhan sana-sini. Apalagi, tadinya jembatan itu hendak dibangun dengan biaya dari Pemerintah Cina, namun gagal. Dia tak henti-henti melobi pemerintah pusat.

Di masa SBY, dia gagal meyakinkan pusat. Dia mendapat harapan di era Jokowi. Lagi-lagi jalannya berliku. Saat melobi ke satu direktur di Kementerian PUPR, dia mengubah strategi. Saat didengarnya direktur itu berbicara dalam aksen Jawa, dia sontak berkata, “Pak, di daerah kami banyak orang Jawa. Bantulah mereka agar punya jembatan.” Kalimatnya menyentuh hati direktur itu.

Puncaknya adalah dia bisa presentasi di depan Jokowi. Nur Alam meyakinkan Jokowi tentang kalkulasi nilai ekonomi atas jembatan itu. Diasumsikan bahwa jembatan itu akan mampu bertahan hingga 100 tahun. Dengan demikian, dengan anggaran pembangunan Rp 729 miliar itu berarti bahwa rata-rata biaya investasi per tahunnya sebesar Rp 7,2 miliar.

Nilainya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah anggaran perjalanan dinas aparat pemerintah dalam setahun.

“Tapi apa yang terjadi dengan pengembalian dari investasi itu, bisa saya katakan bahwa hari ini investasi negara itu sudah kembali. Hitungannya, hari ini harga tanah di Kota Lama yang hampir menjadi kota mati dan di Lapulu menjadi berkali-kali lipat. Yang untung siapa? Yang untung negara karena aset rakyatnya menjadi meningkat.”

Jokowi mengangguk. Saat itu juga dia perintahkan Menteri PUPR untuk siapkan anggaran. Semua proses langsung dimudahkan. Salah seorang sahabat Nur Alam, Ilah Ladamay, masih terheran-heran dengan keberuntungan Nur Alam. Dia tidak menyangka Jokowi bisa diyakinkan dengan cepat, sehingga saat itu juga memberi perintah ke Menteri PUPR.

Tanggal 19 Agustus 2016, ground breaking pembangunan jembatan itu dimulai. Saat peletakan batu pertama, Nur Alam agak emosional bercerita perjalanannya membangun jembatan. Dia dituduh jadi antek Cina, setelah itu dituduh menggusur dan menghancurkan situs.

“Di tahun terakhir ini juga saya masih mendapat tuduhan akan membangun hotel bekerja sama dengan pemerintah Cina. Sekarang lihatlah tiang pancang itu. Tiang itu bukan untuk membangun hotel, tetapi untuk pembangunan jembatan. Sekarang orang melihat hasilnya,” katanya.

Di acara itu, Sekjen Kementerian PUPR Taufik Widjoyono yang hadir mewakili Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memberikan banyak bocoran kisah.

“Ground breaking pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 1.300 meter hari ini kita lakukan. Jembatannya panjang, tapi saya pikir gubernur tahu ceritanya lebih panjang lagi. Ceritanya panjang sekali. Tahun 2008 kita bertemu Pak Gubernur di ruangan saya. Waktu itu jabatan saya masih direktur,” katanya.

Dia melanjutkan: “Proses itu kemudian berjalan, dianggarkan dengan bantuan Cina, namun gagal. Alhamdulillah, pembangunan jembatan hari ini siap kita lakukan. Bagi kami bukan soal mulainya, tetapi lebih penting kapan selesai. Jadi, doanya bukan untuk mulai, tetapi doakan untuk selesai.”

Rupanya, Sekjen Kementerian PUPR ikut menjadi saksi betapa berlikunya proses lobi sehingga jembatan itu bisa dibangun di Sultra. Tanpa proses lobi yang panjang dan melelahkan, jembatan itu tidak berdiri di Sultra, melainkan di daerah lain.

Tentu saja, ada banyak pihak yang terlibat dalam proses pembangunan jembatan. Namun, jika ditelaah lagi, jembatan itu bisa berdiri karena peran penting dari beberapa sosok. Mulai dari Nur Alam yang mengeksekusi ide-ide jembatan menjadi rencana dan mewujudkannya melalui lobi maraton, Presiden Jokowi yang menyetujui semua gagasan Nur Alam, serta Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono yang mengerahkan “pasukan” untuk mengerjakan perintah Jokowi.

Jembatan Teluk Kendari

Hari ini, 22 Oktober 2020, jembatan yang dahulu diperjuangkan itu akan segera diresmikan. Nur Alam hanya bisa memantau dari Lapas Sukamiskin. Dia tidak bisa hadir. Tapi, jembatan itu akan selalu menjadi legacy atau warisan yang diberikannya untuk Sultra.

Setiap pemimpin akan memiliki legacy. Warisan itu akan sangat bermakna jika pemimpin itu hidup dengan nilai-nilai untuk kemudian mentransformasikannya dalam bentuk kebaikan dan kemaslahatan bagi banyak orang yang dipimpinnya.

Kata Donald J MacGammon, “leadership is action, not a position.” Kepemimpinan adalah serangkaian tindakan, bukan sekadar posisi yang menempatkan seseorang lebih tinggi. Di Sultra, Nur Alam meninggalkan legacy, yang tidak hanya berupa fisik, tetapi juga kemampuan lobi, manajerial, serta kemampuan menggerakkan orkestrasi birokrasi.

Kalaupun hari ini dia berada di Lapas Sukamiskin, bukan berarti kita harus mengabaikan semua apa-apa yang pernah dia raih. Pada satu masa, dia pernah bekerja dan berbuat banyak untuk Sultra, yang hari ini bisa kita lihat pada berbagai bangunan dan jejak yang ditinggalkannya.

Saya ingat James Kouzes dan Barry Posner dalam buku A Leader’s Legacy menyebutkan, “leadership is about leaving a lasting legacy”. Kepemimpinan adalah bagaimana meninggalkan warisan yang bertahan. Kepemimpinan adalah meninggalkan “warisan” yang tak lekang ditelan jaman.

“Semoga Sultra selalu lebih baik,” demikian kalimatnya saat saya meninggalkan Lapas. Semoga dia pun selalu baik-baik saja.

Komentar