oleh

Geisz Chalifah – Promotor Ulung

Danny Kurniawan
(Manager Pulau Bidadari)

Ditulis di malam hari sembari memancing ikan di Dermaga Pulau Bidadari

MEMPROMOSIKAN Pulau Bidadari sangatlah tidak mudah apalagi dalam kondisi resesi seperti saat ini akibat pandemi belum lagi budget untuk promosi yang sangat amat terbatas sekali, terkadang dalam senggang terpikir putus asa juga.

Namun asa itu kembali bergelora ketika Pak Geisz dalam obrolan di salah satu grup WA Ancol menjanjikan bahwa setelah Nyiur Resto dan Ombak Laut Resto, beliau akan fokus pada bulan September untuk mempromosikan New Pulau Bidadari.
Beliau memang piawai dalam membuat promosi, terbukti Nyiur Resto maupun resto Ombak Laut dengan kemahirannya menulis cerita membuat resto2 yang awalnya sepi dan baru dibuka itu menjadi ramai dipenuhi pengunjung.

Tepat pada Rabu, 8 September 2020, Pak Geisz beserta rombongan dari JMF berkunjung ke Pulau Bidadari untuk melihat secara langsung Pulau Bidadari. Para artis ternama dari Jakarta Melayu Festival sangat surprise, bahwa New Pulau Bidadari bukan isapan jempol semata, salah satu surga di halaman Utara Jakarta hanya butuh 20 menit dari Dermaga Marina Ancol. Begitu komentar salah satu teman beliau.

Selama di Pulau Bidadari Pak Geisz berkeliling untuk melihat detail dari sudut-sudut indahnya Pulau Bidadari termasuk Benteng Martello.

Dan rombongan dari JMF pun tidak menyianyiakan waktu untuk menikmati keindahan pulau Bidadari sekaligus mendokumentasikan kegiatan tersebut.

Malam hari ditemani lantunan musik melayu dan api unggun sayapun berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau tentang banyak hal diantaranya tentang pekerjaan, suka duka selama mengelola Pulau Bidadari, tentang keluarga dan hal-hal pribadi lainnya.

Dari situ saya menjadi saksi bahwa beliau memiliki kepribadian yang sangat baik, peduli dengan karyawan dan memiliki jaringan pertemaan yang sangat luas. Sayapun memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang membuat saya sangat penasaran, yaitu mengapa tampilan beliau begitu berbeda dengan di dunia maya apalagi jika tampil di media tv. Dengan singkat beliau menjawab : *Mereka sudah sangat terlaluan!*

Tampilan Pak Geisz di tv maupun dimedia sosial dalam berdebat jauh berbeda dengan hari-hari yang kami (karyawan ancol alami.) Bapak Komisaris kami ini tak berjarak dengan bawahan bahkan yang terbawah sekalipun. Selalu perhatian, hangat dan akrab, belum lagi becandaannya sungguh membuat kami tak merasa terbebani berada didekat beliau, melainkan seperti berada didekat teman yang selalu memberi solusi.

Saya sama sekali tak menyangka Pak Geisz dengan rileks membuka pembicaraan diforum sebesar ILC yg ditonton jutaan orang dengan bercerita pulau Bidadari lebih dulu.

Sebelumnya beliau diminta dua kali wawancara didua stasiun televisi berbeda, namun beliau hanya mau dilakukan di Ancol dan lokasinya di Resto Ombak Laut dan di Resto Nyiur.

Bagi Pak Geisz keberadaannya di Ancol harus bermanfaat secara menyeluruh bukan saja ide-idenya yang visioner menjadikan Ancol seperti sekarang ini tapi juga jaringannya.

Pengalaman bersama beliau dapat saya simpulkan bahwa Pak Geisz tidak saja piawai dalam beradu argumentasi, Pak Geisz juga seorang Promotor ulung dengan koneksi jaringan yang sangat luas sekaligus rendah hati pada orang yang secara struktur sebagai bawahan beliau.

Ada rahasia yang kami ketahui dari perilaku beliau, Pak Geisz tidak punya rasa takut berhadapan dengan siapapun tapi beliau sangat takut pada karyawan dilapisan paling bawah bila berlaku salah. Menurutnya orang-orang seperti mereka doanya menembus langit bila berlaku zhalim terhadap mereka. Sungguh mencengangkan dan pelajaran berharga bagi saya.

Saya mewakili rekan-rekan Pulau Bidadari mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Pak Geisz dan rombongan Jakarta Melayu Festival atas partisipasinya mempromosikan New Pulau Bidadari.

Di masa PSBB ketat saat ini Pulau Bidadari masih beroperasi dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Komentar