oleh

Perketat PSBB, Anies Dutuduh Mau Jatuhkan Jokowi. Anda Waras?

Oleh: Tony Rosyid
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

SERINGKALI , seorang kepala daerah dihadapkan pada dua pilihan. “Good looking” di mata penguasa dan pengusaha, atau ambil risiko buat warganya.

Kalau mau “good Looking”, ikuti penguasa dan ketua partai. Atau patuhi cukong. Dukung, apapun keputusan dan kemauannnya. Mau benar atau salah, abaikan. Jadilah “anak manis”.

Jangan ambil kebijakan kontroversial, apalagi bertentangan. Itu berisiko. Risiko dimusuhi. Risiko dibully. Risiko gak turun anggaran. Macam-macam risikonya. Apalagi penguasa punya pasukan buzzer plus dana 90.45 M.

Jika anda hanya ingin “Good Looking” , berarti anda tak layak jadi kepala daerah. Anda lebih pantas jadi jongos. Jongos penguasa dan jongos pengusaha. Jongos biasanya ada otak, tapi sedikit. Ada hati, tapi mati. Mentalnya sudah kebeli. Tak punya kemandirian dalam bertindak.

Anies, Gubernur DKI, nampaknya memilih yang kedua. Kalau mau aman, tidak dibully, sedikit musuh, Anies gak perlu mengambil keputusan PSBB lagi. Tapi, data masifnya penyebaran Covid-19 di DKI, risiko kematian yang tinggi, dan kapasitas rumah sakit yang terbatas, memaksa Anies harus mengambil keputusan berani. Suka tidak suka, harus dibuat keputusan itu.

Terhadap kebijakan PSBB ini, Anies dibully. Semua buzzer keluar dari sarangnya. Mereka dapat momentum. Sampai ada yang begitu emosional meminta Anies mundur.

Setidaknya, ada tiga tuduhan kepada Anies. Pertama, gara-gara Jakarta PSBB, IHSG turun, katanya. Mari kita cek fakta. Senen, 14 September dimana hari pertama PSBB diberlakukan lagi dengan berbagai penyesuaian, justru IHSG bergeliat naik hingga 2,34 persen. Saham BRI ikut menguat 4,62 persen. Telkomsel menguat 2,14 persen. Bahkan ICBP punya Salim group juga menguat 2,44 persen. Ini data. Salahkan Anies?

Kedua, PSBB diduga akan menyulitkan warga Jakarta. Dengan PSBB, warga Jakarta akan makin sulit hidupnya. Apakah tuduhan ini berbasis data? Analisis obyektif atau imajinatif?

Di Jakarta, ada 3,6 juta KK gak punya tabungan. Maka, mereka diberikan bansos. Beberapa bulan ini, Anies telah menyiapkan anggaran bansos sebesar 900 M per dua pekan untuk 3,6 juta warga DKI. Sebulan 1,8 T. Jadi, relatif aman. Ini sudah berjalan. Salahkan Anies?

Jika Anies gak tarik rem darurat PSBB, Jakarta bisa collaps. 77 persen ruang isolasi rumah sakit di DKI sudah terpakai. 83 persen ruang ICU sudah terisi. Ini data 6 September lalu. Sisanya, gak akan menampung jika pasien terus bertambah secara masif. Lalu, bagaimana nasib mereka? Mau mati di jalanan?

Ketiga, dengan PSBB, Anies dianggap sengaja memperburuk ekonomi nasional agar Jokowi segera jatuh. Ini terlalu jauh imajinasinya. Di otak orang-orang ini sepertinya sudah kebayang Anies itu presiden masa depan. Lalu mereka takut kalau nahkoda kapal mereka akan diganti. Sebuah ketakutan yang berlebihan.

Kalau pandemi tak serius diatasi, tapi fokus hanya pada ekonomi, maka Indonesia akan gagal dua-duanya. Kesehatan gak pulih, ekonomi makin terpuruk. Ibarat ngisi ember bocor. Bansos terus diberikan, UMKM dan korporasi disuntik dana, tapi penyebaran virus gak dibatasi. Maka, tak pernah ada ujungnya. Karena produksi tersendat. Otomatis peredaran uang juga terganggu. Terjadilah resesi ekonomi. Sampai kapan? Sampai pandemi betul-betul teratasi.

Soal Jokowi, sampai 2024 atau tidak, begini kalkulasi politiknya. Kalau kondisi ekonomi- politik normal dan Jokowi bertahan sampai 2024, peluang Anies jadi presiden sangat besar. Karena Anies sedang berada di atas panggung. Kondisi obyektif, Anies paling populer saat ini. Ini fakta yang gak bisa dibantah.

2022, kemungkinan di DKI ada pilkada. Semua partai di DPR menghendaki, kecuali PDIP. Jika 2022 Anies gubernur lagi, jadi presiden hanya butuh satu langkah. Sekali lagi, ini kalkulasi jika semuanya berjalan normal.

Jika Jokowi jatuh sebelum 2024, meski peluang Anies jadi presiden tetap ada, namun akan banyak tokoh yang berpotensi membajak situasi untuk berebut jadi presiden. Akan bermunculan para tokoh instan. Dan mereka akan saling menyalib di tikungan.

Dari analisis ini, kelihatan bahwa Anies hanya fokus melihat data penyebaran Covid-19, lalu menghitung segala dampaknya bagi warga Jakarta, dan ambil keputusan. Simple urutan logika dan kerjanya. Soal “good Looking” atau “tidak good Looking”, untung rugi secara politik, nampaknya bukan prioritas bagi Anies saat ini.

Jika ada anak anda yang sakit, anak anda yang lain ditabrak kereta lalu mati, masihkah anda bisa berpikir politis? Ini yang seringkali tak terjangkau oleh otak para pengkritik Anies.

Kira-kira kalau dinarasikan begini: gak urus dengan 2024, yang penting warga Jakarta selamat. Selamat nyawanya, dan kebutuhan ekonominya bisa diatasi. Gak peduli orang setuju atau tidak, karena tanggung jawab warga DKI ada di pundak seorang gubernur sebagai kepala daerah.

Inilah yang membedakan Anies dengan para pengkritiknya. Anies mengambil kebijakan dengan data dan rasa. Umumnya, para pengkritik gak peduli data, dan gak ada rasa. Di ujung, kebenaran akan terbuka. Ini sudah berulangkali terbukti.

Para pengkritik sangat emosional. Kelebihan Anies, selalu bisa menjaga emosinya. Tenang dan tetap bersahaja. Kata dan sikapnya terukur. Itupun tetap dikritik, pinter mengolah kata, katanya.

Mestinya, para pengkritik belajar kepada Anies bagaimana mengolah kata yang baik. Agar telinga para pendengar juga bisa menerima dengan baik. Kalau Kata-katanya kotor, tentu hanya telinga kotor yang bisa menampungnya. Ini hukum psikologi.

Mental dan sikap yang gak seimbang antara Anies dengan para pengkritiknya justru seringkali menjadi poin positif buat Anies. Kalau Tyson lawan petinju amatir, kira-kira sudah bisa ditebak kemana dukungan penonton akan diberikan. Ini logika dan analogi yang paling dasar.

Di depan penguasa, Anies memang jauh dari performence “good looking” . Tapi, di mata warga DKI, Anies mendapat apresiasi, karena kekuatan leadershipnya. Di dalam diri Anies ada kejujuran, ketegasan, keberanian ambil risiko, dan kerja terukur berbasis data. Anies punya integritas dan kompetensi. Jika Anies mampu terus mempertahankan karakternya ini, maka ia akan selalu diterima di hati rakyat.

Jakarta, 15 September 2020

Komentar