oleh

SMA Lu Dimane?

Bang Sém

SMA lu di mane?” Ini pertanyaan khas anak belia Jakarta di masanya. Pertanyaan yang berbeda makna, bergantung aksentuasi mengucapkannya.

Pertanyaan ini biasa terlontar dari mulut kakak atau adik seorang gadis yang kita naksir kepadanya dan kita kunjungi rumahnya.

Lantas mata sang adik atau kakak akan ‘menyelidik’ mulai dari rambut sampai ke sepatu. Kemeja ketat melekat, celana cutbray tergerai, sepatu boot bally mengkilat, dan jaket levi’s tersandang di bahu dengan telunjuk jadi pengait.

Itu pertanyaan standar anak belia Jakarta, ketika lagu Walk a Way perlahaan tak lagi kumandang di pesta keliling Sabtu malam, digantikan oleh Hey Jude atau Come Together-nya The Beatles. Lagu-lagu hit yang menggantikan All You Need is Love, Black Bird, Hey Bulldog.., meskipun Yesterday masih sering digumamkan sebelum Don’t Let Me Down, Get Back, dan Lady Madona nangkring di tangga lagu.

“SMA lu dimane?” sangat khas dalam pergaulan belia Jakarta, yang lahir dan besar di Jakarta, yang latihan sepatu roda di sekeliling Taman Surapati atau Taman Lembang, gowes sepeda mini model sepeda lipat — yang sedang ngtren kini — melintasi jalan Teuku Umar, Boplo, Menteng Raya, Monas, Jalan Kebon Sirih Thamrin, Jalan Jawa, Jalan Gresik, Jalan Madura, Jalan Indramayu, Jalan Blora, Jalan Krakatau, Jalan Madiun, terus nongkrong ngaso di Taman Surapati. Lantas makan soto mie di Jalan Sowo dekat Jalan Palem.

Pertanyaan itu pertanyaan karib, ketika anak-anak SMA Teladan (kemudian bernama SMA3) di Setiabudi tanding Basket dengan anak-anak SMA Jalan Batu (SMA 4), SMA Gambir (SMAN7), SMA Boedoet (SMA 1) atau SMA Bulungan (SMA 6, 9 dan 11).

Pertanyaan itu pertanyaan karib, ketika anak-anak Abraham School (SMA 3 Muhammadiyah) tanding hockey dengan mahasiswa Universitas Indonesia (Salemba dan Rawa Mangun), sebelum klub Hockey ASMI jaket ungu naik pamor.
Pertanyaan itu pertanyaan biasa, ketika para belia latihan balap motor dan go car berlangsung di Monas, menirukan gaya pembalap macam saksono berlaga di Pangkalan Jati, Pondok Labu.

Saya ngakak, ketika Geisz Chalifah – aktivis ISAFIS – kumpulan mahasiswa yang intens melakukan studi internasional di kediaman Faizal Motik — menggunakan pertanyaan, itu dalam satu acara televisi ‘nyekak’ lawan bicaranya, entah siapa dan entah dari mana, yang doyan banget nyerang Gubernur Anies Baswedan soal Monas.

Geisz bahkan sudah memodifikasi pertanyaan itu menjadi, “SMA Anda di mana?”

Dan tentu, yang ‘disekak’ Geisz cuma planga-plongo, lantas meradang tak mampu kendalikan emosinya, lantas mengeksplorasi perasaannya dengan cara ‘sentak sengor.’

Untung Geisz kalem menanggapi. Dari mulut anak Poncol – Senen, itu tidak muncul istilah yang juga populer bersamaan waktunya dengan pertanyaan biasa yang dia ajukan.

Karenanya acara gunemcatur televisi, itu tak diramaikan dengan istilah: ma’di kipé, ma’di rabit, muké lu sepa,’ sengak lu yé.., ahh na’ak duik ajé lu.. Pun tak keluar pertanyaan lain dari Geisz, kapan dateng dari udik?

Pembacot Ngebacot

Pertanyaan yang diajukan Geisz di masanya, selalu dipakai untuk ‘nyekak’ siapa saja yang menampakkan dirinya pongah, songong, sok tahu, belum cukup ilmu, kurang baca, dan ingin menunjukkan dirinya tahu segalanya tentang sesuatu yang dia omongkan. Padahal dia hanya tahu sedikit.
Termasuk ‘nyekak’ siapa saja yang baru mengeja kata kalimat pertama dalam pengantar retorika Cicero, yang sering menutupi kepandiran dan tendensi di balik argumentasi gagah-gagahan.

Saya tidak tahu persis, mengapa penyelenggara programa siaran televisi kita semangat betul memberikan panggung untuk mereka yang pandai ‘ngebacot’ dan tak punya ilmu yang memadai dalam berdebat.

Akibatnya gunemcatur yang mesti menjadi telaga bagi pemirsa mendulang pengetahuan dan kecerdasan, hanya sekadar menjadi panggung ‘sentak sengor’ sejumlah orang yang tak punya kapasitas dan kapabilitas untuk bicara (apalagi mengeritik) sesuatu secara obyektif dan proporsional.

Kritik itu baik dan bermanfat. Kritik mesti berbasis data yang benar dan sahih. Karenanya, selalu ada rumus, ketika mengeritik sesuatu kudu ada keberanian bagi pengeritik menyelisik sekaligus meneliti obyek kritiknya.

Rumus kritik bagi intelektual jelas, tampilkan 10 nilai positif obyek kritik, dan pengeritik boleh mengungkapkan hal negatif dalam bilangan yang sama.
Pengeritik juga musti punya pengetahuan dan pengalaman khas tentang obyek yang dikritik, sehingga tidak ‘asal nyangap’ alias ‘ngebacot.’

Ekspresi ‘ngebacot’ hanya melayangkan gelembung-gelembung igauan presumsi yang dianggap sebagai fakta dan kebenaran.

Sesuatu, yang secara epistemologis tidak bermanfaat bagi khalayak ramai, karena hanya mengekspresikan sikap disorientasi ‘pembacot’ yang hanya memburu kepentingan eksistensialnya sendiri.

Boleh jadi benar yang diungkapkan Jean- François Malheebe, para ‘pembacot’ beranggapan, bahwa argumen yang beralasan tidak ada.
Akibatnya yang keluar dari ocehan mereka, hanya abstraksi diri yang berjarak dengan realitas pertama, fakta sebenar, dengan menyisipkan kepentingan tertentu.

Karenanya, ketika dipancing ke dalam empirisma, lewat pertanyaan: “SMA lu dimane?,” misalnya, spontan, yang mencuat adalah ekspresi emosi bawah sadar.

Maka, ocehan berikutnya adalah wacana tanpa nalar dan tanpa tanggung jawab etik dalam melakukan kritik.

Untuk melatih logika kritik yang betul, Rocky Gerung di satu sisi, Haris Azhar di sisi lain, dan Geisz Chalifah di posisi ‘halang rintang,’ perlu sering-sering dihadirkan dalam gunemcatur televisi.. |

Komentar