oleh

Hagia Sophia dan Erdogan

by M Rizal Fadillah
(Pemerhati Politik dan Kebangsaan)

PUTUSAN Pengadilan Turki yang mengembalikan fungsi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid direspons kebijakan Presiden Recep Tayyip Erdogan dengan menyerahkan pengelolaan ibadah kepada Kepresidenan Urusan Agama. Suka cita muslim Turki setelah lama fungsi masjid diubah menjadi museum oleh Kemal Attaturk pada tahun 1934.

Keputusan berani berhadapan dengan reaksi dunia yang merasa sedih atas alih fungsi tersebut. Hagia Sophia adalah masjid yang sebelum Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Al Fatih adalah gereja yang terkenal sebagai pusat keagamaan umat Kristen di kerajaan Romawi Timur, Byzantium.

Bangunan megah yang berdiri dekat dengan Istana Topkapi dan Blue Mosque ini digunakan menjadi masjid kembali dengan alasan bahwa hak negara Turki sendiri untuk menentukan apapun yang menjadi urusan dalam negerinya. Suatu sikap nasionalisme yang patut diacungkan jempol. Negara mandiri yang berwibawa.

Sebenarnya Erdogan yang disebut penentangnya melakukan “provokasi peradaban” itu sebenarnya sedang melempar kritik keras atas masjid di Cordoba Spanyol yang diubah menjadi Catedral dan juga Masjid Al Aqsha yang dikuasai Israel di Jerusalem. Erdogan sedang melakukan “perang peradaban” yang sudah diperhitungkan efek politik dan keagamaannya.

Dunia terkejut akan sikap “Muhammad Al Fatih” abad ini. Ketidakadilan dunia harus berkaca diri. Umat Islam di berbagai belahan dunia sedang mengalami tekanan berat menghadapi hegemoni Barat, China, dan Yahudi. Penindasan dan penjajahan dilakukan dalam berbagai bentuk. Muslim minoritas tertindas, muslim mayoritas pun dipermainkan dalam ketidakberdayaan ekonomi dan politik.

Aksi Erdogan di dalam negeri sendiri itu merupakan langkah cerdas. Memberi pelajaran pada dunia luar dan dunia Islam. Di Negara muslim sedikit sekali kepala negara atau kepala pemerintahannya yang memiliki karakter “mampu mengangkat muka”. Sebagian besar pemimpin menjadi komprador penjajah.

Komprador adalah anak bangsa yang rela dan tega menjual kepentingan bangsa dan rakyatnya demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Kepala negara yang menjadi kacung dari bangsa lain. Menjual tanah airnya dengan harga murah. Ia telah berkhianat pada negara dan rakyatnya.

Komprador biasa berjual beli dengan bahasa investasi atau hutang luar negeri.

Erdogan berdiri tegak menghadapi kecaman lemah yang dibingkai dengan kata “peradaban”, “heritage” atau “perdamaian”. Ia buktikan bahwa lawan nyatanya tak mampu berbuat apa apa. Hanya pemimpin lemah yang mudah digertak.

Pemimpin kuat berbuat untuk agama, bangsa, dan negara dengan penuh keyakinan dan keberanian.

Bandung, 13 Juli 2020

Komentar