oleh

SIAPKAN COVID-20

N. Syamsuddin Ch. Haesy

BOLEH jadi, karena selama ini kita terlalu sering bekisik-kisik merancang pertelingkahan untuk menggagas-rancang persekongkolan dengan berbagai hidden agenda, virus corona COVID-19, mengharuskan kita mengambil jarak fisik antar personal dan jarak sosial.

Boleh jadi, karena selama ini kita terlalu sering mencuci tangan secara konotatif, dalam makna melepas tanggungjawab atas segala kebijakan dan keputusan yang merugikan rakyat, virus corona COVID-19 mengharuskan kita cuci tangan secara denotatif.

Boleh jadi, karena selama ini kita gemar tutup mulut dan mengenakan topeng untuk menyembunyikan kebenaran dan menyembunyikan aksi yang amat merugikan rakyat, virus corona COVID-19 memaksa kita mengenakan masker yang sesungguhnya. Tak hanya menutupi mulut, bahkan menutupi sebagian muka kita. Meski boleh jadi, mereka yang gemar mencari muka, akan lebih sulit lagi menemukan mereka-mereka.

Boleh jadi, karena selama ini kita menyimpan rahasia kepada orang rumah, apa yang seringkali dilakukan di luar rumah, termasuk pria idaman lain atau wanita idaman lain, virus corona COVID-19 memaksa kita untuk melakukan sebagian besar aktivitas kita, termasuk rapat dan sejenisnya dari dalam rumah.

Boleh jadi, sepanjang masa pernikahan banyak kalangan, baru kali inilah para istri dan suami tahu, secara sungguh-sungguh pasangan mereka masing-masing ada di mana dan ‘ngapain.’ Karenanya memang menggelikan dan mengundang senyum, banyak lelaki pandir dan telat akil balig yang resah dan gelisah dengan situasi pembatasan sosial, menjadi resah, gelisah, gundah, dan galau. Terutama, ketika ‘teman tapi mesra’ (TTM) mereka mengontak via video call.

Boleh jadi virus corona COVID-19 yang konon mudah dilumatkan oleh sabun dan zat disinfektan skala rumah tangga, itu memang sengaja disiapkan Tuhan, untuk menghentikan berbagai perilaku bedebah yang tersembunyi di balik pertemuan-pertemuan internasional yang menyimpan virus kapitalisme liberal dalam skala global. Fakta memang menunjukkan, bahwa segala hal yang dibanggakan sebagai keputusan global yang kokoh dan berorientasi kemanusiaan, sungguh rapuh dan tidak manusiawi.

Adalah fakta juga, jalan pikiran global yang memanjakan hedonisme, yang tak lagi hanya teori etika tentang kesenangan (dalam arti kepuasan hasrat) sebagai tujuan tertinggi yang baik dan benar dari kehidupan manusia, adalah paradoks dari esensi ajaran spiritual tentang ‘kebahagiaan di dunia dan di akhirat, seraya bebas petaka.’

Boleh jadi, nanomonster COVID-19 secara maknawi sedang membuka tirai kalam, mengingatkan kita tentang singularitas, transhumanisme, kesenjangan antara skill – profesionalisme, serta ancaman eksistensialisme sebagai homo faber, yang diramalkan James Martin (Oxford University, 2007) dengan kearifan baru yang sungguh beradab dan berkeadaban.

Muaranya, seperti isyarat Martin, manusia sejagad mesti merumuskan kembali perencanaan peradaban baru yang sungguh manusiawi dan menegaskan esensi budaya manusia yang sesungguhnya.

Dalam konteks kepemimpinan politik di seantero dunia, kini terbukti, betapa dunia sedang dikendalikan oleh para petinggi — yang dikemas oleh media secara multiformat dan multi platform — sedang mempertontonkan kapasitas, kapabilitas, dan kualitasnya.

Virus corona COVID-19 sedang memperlihatkan kepada seluruh umat manusia di seluruh penjuru dunia seleksi alamiah untuk membedakan siapa yang sungguh patut dan layak memimpin dan siapa yang tidak patut dan tidak layak memimpin. Lack of leadership terlihat di berbagai belahan dunia, seperti peta sebaran virus corona COVID-19 memperlihatkan simpul-simpul episentra pandemi.

Boleh jadi, inilah momentum paling pas untuk seluruh rakyat warga dunia, di seluruh lapangan kehidupan, melakukan pemikiran ulang tentang banyak hal, terutama sistem globalisasi – kapitalistik – liberal merupakan sesuatu yang tidak cocok bagi kehidupan umat manusia.

Peristiwa merebaknya virus corona COVID-19 yang tak bisa diprediksi oleh siapapun akan berakhir dan telah mengubah dimensi peradaban umat manusia, bagi kaum yang sungguh berfikir, memerlukan kesadaran kemanusiaan dan peradaban baru yang lebih sahih. Yakni, peradaban manusia, yang sungguh mampu menghadirkan harmoni nalar, naluri, rasa, dan dria dalam satu kesatuan gerak hidup.

Situasi mencekam yang ditimbulkan oleh virus corona COVID-19 bila hendak diakui secara jujur dan berbesar hati, telah menghadirkan keadaan, bahwa setiap bangsa mesti kembali ke pangkal jati dirinya. Teguh berpijak dengan kearifan dan kecerdasan budaya lokalnya dalam merenangi kehidupan mondial.

Sejarah menunjukkan dari sejarah perkembangan virus di masa lalu, mulai dari abad ke 14 sampai ke abad ke 19 membuktikan, penyelamatan keadaan hanya dimungkinkan oleh tumbuhnya kesadaran kolektif para ilmuwan yang sadar tentang hakekat kemanusiaan dan peradaban.

Dalam situasi demikian, kaum pandir yang berebut cangkang dan sibuk mengangkangi dunia politik hanya berorientasi kekuasaan, mesti dibersihkan dari seluruh tatanan kehidupan. Supaya mereka tidak menjadi virus baru yang lebih mengerikan, yang akan menggerogoti gerakan simultan merancang peradaban baru.

Pilihan kita sangat sederhana: berubah atau punah! Disiplin atau binasa! Isi atau cangkang! Boleh jadi, pilihan-pilihan kuat untuk melakukan perubahan dramatik itu, akan membuat sebagian kita harus diisolasi selama-lamanya dalam karantina peradaban yang lebih ketat.

Kita perlu siapkan virus memetika (akalbudi) COVID-20 (cooperation, optimism, vitality, integrity, dedication) secara global. Merujuk pada 17 tantangan global James Martin, ke depan, kita perlu virus memetika COVID tersebut untuk mengatasi 20 persoalan ke depan: memberantas virus pandemis, menyelamatkan bumi, mengendalikan penduduk, membalik kemiskinan, mencapai gaya hidup lestari, mencegah perang global, menggerakkan mondialisme kemanusiaan, menghidupkan budaya kreatif, memanusiawikan sains dan teknologi, memperluas potensi manusia, mendudukkan singularitas, menjelajahi transhumanisme, mengelola risiko eksistensial, menyempurnakan pemodelan planet, mengintegrasikan keterampilan dan kearifan, mengurangi potensi terorisme, memperkuat ketahanan spiritual, menyiapkan peradaban lanjut, dan menguatkan esensi ke-Tuhan-an dalam spirit rahmat atas alam.
| #stayathome #180420

Komentar