oleh

KETIKA JAE TIDAK ADA!

by Smith Al Hadar

SEJARAH Indonesia tetap akan mencatat Jae sebagai salah satu presiden RI. Cuma itu. Tidak mungkin para penulis sejarah kelak akan menampilkannya sebagai orang hebat. Toh, dengan berat hati, mereka akan mengatakan beliau biasa-biasa saja, seperti orang kebanyakan. Paling banter sebagai seorang tukang mebel.

Mungkin juga para penulis sejarah tidak menderetkan keburukannya. Opung yang akan disalahkan.

Memang di masa pemerintahan Jae, Opunglah yang menjalankan tata kelola pemerintahan dari A sampai Z. Dialah The Real President. Alhasil, sejarah tak menganggap Jae sebagai sesuatu atau seseorang, seakan-akan dia tak pernah ada.

Yang ingin mencantum keburukannya, silakan saja. Toh, mereka punya argumen yang obyektif. Misalnya, di era Jae, demokrasi merosot. Juga penegakan hukum. Ormas yang dianggap menentang Pancasila ditutup begitu saja tanpa proses hukum. Orang-orang yang kritis dibungkam, diciduk, malah ada yang ditelantarkan di luar negeri.

Masih panjang daftar keburukan rezim yang ingin mereka sampaikan. Di antaranya, merosotnya komitmen pemberantasan korupsi melalui revisi UU KPK, buruh ditindas melalui omnibus law, pilpres dicurangi secara kualitatif, dana publik disikat, rakyat diperas melalui iuran BPJS, terjadi skandal megakorupsi Jiwasraya, dan seterusnya. Memang panjang daftar penyimpangan rezim.

Yang mau menulis tentang kebaikannya, juga silakan. Misalnya, tentang dia bagi-bagi sepeda, sembako saat pilpres dan di masa kegentingan krisis Covid-19. Ini sebenarnya melanggar aturan, tapi silakan saja kalau ada yang menganggap sebagai sifat dermawan beliau.

Silakan kalau mau menambahkan kehebatannya membangun infrastruktur, meskipun ini tak bisa dijadikan parameter kehebatan presiden yang memiliki kuasa sangat besar. Anak SD pun bisa melakukannya. Jae juga tak akan dicatat sebagai bapak infrastruktur karena julukan itu lebih pantas untuk Presiden Soeharto. Apalagi jor-joran membangun infrastruktur di era Jae dipertanyakan kearifannya. Membangun infrastruktur memang penting dari sisi ekonomi dan politik, tapi janganlah lebay. Kalau membangun tanpa hitung-hitungan yang rasional secara ekonomis, selain kurang bermanfaat, juga membawa negara ke kubangan utang luar negeri yang pelunasannya membutuhkan lebih dari satu generasi.

Para penulis sejarah akan mengatakan, seharusnya negara bijak dalam membelanjakan duit rakyat dan piutang yang harus dipikul rakyat juga, yang sebagian besar masih belum hidup layak, jangan lebih besar pasak daripada tiang. Tapi kalau masih ada yang mengigau bahwa itu bukti kehebatannya, silakan saja.

Saya sendiri menganggap era kepresidenan Jae sebagai periode kekosongan: kosong pikiran, kosong ide, kosong karya, dan kosong leadership. “Cogito Ergo Sum!” atau “Aku Berpikir Maka Aku Ada!”. Kalau maklumat dari filosof Perancis Rene Descartes ini bisa diterima, akan timbul pertanyaan: bagaimana saya dan Anda harus menganggap Jae ada kalau pikirannya tidak ada? Mungkin Jae ada. Toh, setiap hari dia wara-wiri di layar kaca. Namun, tak ada yang melihatnya atau melihat tapi tidak memperhatikan.

Saya juga bingung mengapa rakyat bersikap seolah-olah Jae tidak ada. Apakah karena Jae terlalu sering bohong dan kaget sehingga rakyat bosan melihatnya? Ataukah lantaran tertawanya yang terdengar pahit?

Saya menduga, rakyat tak lagi menggubrisnya karena kemunculannya di televisi hanya untuk mengatakan dia kaget di saat rakyat tidak kaget. Rakyat justru kaget kalau dia tidak kaget. Terlalu sering kaget karena kebodohan akan membuat kaget kehilangan maknanya.

Lihat, ketika dia terpilih jadi presiden untuk pertama kalinya pada 2014, kita terkaget-kaget. Bagaimana orang yang jarang baca buku, kecuali komik karya Ko Ping Ho dan Sincan, bisa menjadi orang nomor satu di negeri raksasa ini dengan segala kompleksitasnya? Tapi Jae malah tenang-tenang saja, sering dengan tawa cengengesannya.

Perisitiwa besar perpolitikan nasional itu tidak membuat dia kaget, lalu ketakutan, dan bertanya dalam hati: mungkinkah aku memimpin bangsa besar ini tanpa kapasitas minimal yang dibutuhkan? Semuanya Jae terima sebagai karunia Ilahi, takdir yang membesarkan namanya kendati dia tak tahu syarat-syarat untuk menjadi orang besar yang dicatat sejarah dengan tinta emas. Dia tidak tahu mungkin disebabkan dia memang tidak memiliki atribut-atribut kebesaran.

Suatu hari, tak lama setelah jadi presiden, wartawan bertanya kepadanya, “Apakah Bapak suka membaca buku politik?” Saya tidak tahu apakah wartawan itu hanya memancing atau memang ingin mendapat info tentang kualitas presiden baru ini. Sungguh mengagetkan kita ketika Jae menjawab tanpa kaget: “Tidak pernah”. Sebenarnya, pesan yang ingin disampaikan Jae kepada kita dengan kalimat “tidak pernah” adalah pesan sombong yang bodoh. Dengan pesan itu Jae meremehkan politisi, negarawan, dan ilmuan, domestik maupun mancanegara, yang menghabiskan hari-hari mereka dengan membaca buku serius, termasuk buku politik.

Dia mengatakan, “walaupun tak pernah baca politik, saya mampu mengatasi semua orang hebat di negeri ini.” Yang dia tidak tahu, testimoni itu membuat malaikat ikut menangis sesunggukan. Hati kita hancur berkeping-keping.

Orang seperti apa yang sedang memimpin kita ini? Kendati banyak dari kita menghabiskan malam-malamnya dengan memikirkan nasib bangsa ini ke depan di bawah Jae, beliau justru menikmati banyak orang dari semua kelas. Kita pasti kesulitan mencari penyebabnya. Yang bisa kita katakan hanya bahwa Jae didukung hampir semua media utama. Orientasinya tentu saja bisnis. Kalau mereka tak mendukung Jae, kaum oligark tak akan memasang iklan di medianya. Media bisa mati karenanya. Lalu juga parpol yang berorientasi kepentingan pragmatis. Jae juga didukung RRC dan rakyat kebanyakan yang telah dibius propagandis bayaran, yakni influencer dan buzzer. Naudzubillah min zalik! Kita pun terperangkap dalam lingkaran setan.

Sekali lagi, era Jae adalah periode kekosongan. Karena power vacuum inilah orang ambisius seperti Opung —yang kebetulan masih punya sedikit pikiran— muncul ke permukaan untuk mengendalikan negara sepenuhnya, dengan segala kepongahan dan keterbatasannya.

Kalau ada yang perlu ditambahkan, saya ingin mengatakan bahwa kepresidenan Jae adalah periode amoral, ketika budaya kejujuran dicampakkan ke tong sampah. Terjadilah disorientasi nilai-nilai luhur di kalangan masyarakat yang bingung. Sejak awal kita ditipu Jae habis-habisan dan terang-terangan tanpa rasa bersalah. Justru kita yang merasa bersalah karena membiarkan dia berbohong hampir setiap hari.

Dengan wajah ndeso-nya yang lugu, ternyata menjadi instrumen yang ampuh untuk menyembunyikan hal sebenarnya bagi pendukung fanatiknya. Tak perlulah saya membeberkan satu per satu kebohongan Jae selama lebih dari lima tahun terakhir. Daftarnya terlalu panjang. Toh, kalian juga sudah tahu. Yang ingin saya tanyakan: masih mampukah kita memikul kebohongan dan ketidakberesan Jae lima tahun lagi? Pada lima tahun mendatang, kalau Jae bisa bertahan, sangat mungkin akan muncul kebohongan yang lebih banyak di masa-masa sulit ke depan.

Astaghagirullah, di masa krisis Covid-19 ini Jae masih saja berbohong dengan menyembunyikan fakta-fakta dan korban virus jahat itu di tanah air. Itu diakuinya sendiri. Agar rakyat tidak panik, katanya. Menyembunyikan bahaya yang tak dapat disembunyikan justru akan membuat rakyat kian panik. Jae terpaksa mengungkap tentang kebohongannya setelah mendapat tekanan WHO dan banyak negara mempertanyakan klaim pemerintah bahwa tidak ada korona di Indonesia. Klaim yang sangat bodoh, termasuk oleh Menteri Kesehatan yang adalah seorang dokter. Mungkin karena harus mendukung Jae yang tak punya pikiran, anak buahnya jadi bodoh. Menteri Kesehatan terpaksa melawan didiplin ilmunya sendiri dengan argumen-argumen idiot untuk mendukung atasannya, seolah semua rakyat Indonesia dungu.

Kemudian Jae berbohong lagi tentang penangguhan iuran bulanan kredit motor. Setelah berhasil membuat kebingungan di kalangan ojol, Jae muncul kembali dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang sudah lama didesakkan kalangan ahli disertai program Jaring Pengaman Sosial. Rakyat miskin bertanya: benarkah kali ini Jae akan berkata benar? Sementara menunggu realisasinya, sebagian pengamat menganggapnya itu sebagai gimmick doang.

PSBB yang diterapkan Gubernur DKI Anies Baswedan dengan melarang ojol mengangkut orang dianulir oleh Opung. PSBB yang ditandatangani Jae justru dilanggar Opung, seolah Jae tidak ada. Apa boleh buat Jae sendiri melanggar kebijakan sendiri dengan mengumpulkan rakyat di depan Istana Bogor untuk membagikan sembako. Kebijakan social distancing menjadi tidak ada artinya. Artinya Jae melawan Jae. Kita tidak tahu Jae yang mana melawan Jae yang mana. Apakah Jae jujur melawan Jae pembohong? Atau keduanya Jae pembohong.

Saya cenderung mengatakan Jae tidak ada. Itu sebabnya Opung merajalela dan para menteri lain bercuap-cuap seperti anak ayam kehilangan induk. Perlu ditambahkan, bagi-bagi sembako itu semestinya dilakukan ketua Rt atau Rw. Dalam sistem tatanegara kita, presiden diberikan kekuasaan luar biasa besar untuk memikirkan dan menjalankan hal-hal besar strategis negara. Bukan membagi-bagi sembako. Seorang pengamat mengatakan itu hanya raksasa seperti bermain gundu.

Maka presiden memang tidak hadir, Jae tidak ada. Kalaupun Jae ada, anggap saja tidak ada, sebagaimana kata pepatah Arab: Wujuduhu kaadamihi, artinya ada atau tidak ada dia sama saja.

Lalu apa yang mesti dilakukan agar presiden hadir untuk menjalankan amanah penderitaan rakyat? Mengharapkan Jae berfungsi tentu tidak masuk akal. Kita juga sudah melihat inkompetensi Opung menjalankan kapal besar Indonesia di tengah badai dan gelombsng pasang samudera luas.

Tanpa adanya kepemimpinan yang mumpuni di tengah krisis ini kapal bisa saja karam. Emil Salim mengatakan, kini Indonesia berjalan di seutas tali kecil. Artinya, Indonesia sedang gawat. Sudah seharusnya kaum terpelajar dan intelektual turun gunung untuk menuntun masyarakat dengan obor hikmah menuju pantai keselamatan. Kemudi kapal mungkin perlu diambil alih, tentu secara konstitusional. Paling tidak, rakyat harus dicerahkan tentang bahaya yang ada di depan.

Apindo mengatakan, perusahaan hanya bisa bertahan sampai Juni akibat terpaan kasus corona yang berakumulasi dengan banyak persoalan besar yang sudah ada sejak awal kepresidenan Jae. Sedangkan krisis Covid-19 yang berimplikasi pada krisis ekonomi, politik, dan keamanan masih akan berlangsung relatif lama. Ini membuka kemungkinan terjadi protes massa besar seperti krisis 1998 yang menjatuhkan rezim.

Kalau prediksi ini dianggap masuk akal, maka sudah seharusnya kita mengantisipasinya secara rasional. Apa yang nampak seperti kekuatan rezim hari ini, bisa jadi hanyalah istana pasir. Siapa menyangka rezim Orde Baru yang demikian kokoh amblas dalam waktu singkat. Antisipasi itu penting agar ada cahaya di ujung lorong. Dalam situasi genting ini ikhtiar perlu semata-mata untuk menyelamatkan bangsa. Wallahu’alam bissawab!

Komentar